Home · Obrolan Santai · Coblos atau contreng sama saja? TIDAK!

Coblos atau contreng sama saja? TIDAK!

Pemilu kali ini menyisakan banyak cacat yang seharusnya tidak terjadi bila diselenggarakan dengan keyakinan dan sepenuh hati dari para a(ke?)parat pejabat dan bisa saling kerjasama antar bagian.
Mulai dari banyaknya warga tidak terdaftar sebagai DPT (daftar pemilih tepat), orang meninggal, orang gila yang justru terdaftar, pemberitahuan/undangan contreng yang cuma 1 hari sebelum hari H, logistik yang terlambat, kertas suara tertukar, dan berbagai kecurangan yang dilakukan oleh OKNUM yang berkeinginan mewakili kita (memalukan!), dan berbagai macam cacat lainnya.

Namun disini saya tidak akan mengoreksi atau mengajari para aparat terkait, karena seharusnya sudah mengerti bagaimana mengatasi hal tersebut. Disini saya hanya akan membagi pengalaman pemilu kemarin, dimana ada aturan baru yang sebelumnya coblos menjadi contreng. Saya kurang tahu ide darimana dapatnya sehingga diambil keputusan sebagai contreng, padahal coblos toh lebih gampang dan lebih mantap dihati. Apakah ide tersebut diambil oleh tukang kertas sehingga surat suara bisa utuh? kayaknya ga mungkin :p

Menurut sebagian orang coblos atau contreng sama saja, tetapi bagi saya pribadi contreng menimbulkan masalah-masalah yang seharusnya tidak terjadi seandainya saja dengan mencoblos.
1. Hasil contreng kurang jelas, bagian mana yang dicontreng, buat sebagian orang sangat membingungkan sehingga banyak yang lewat batas dan dianggap gugur.
2. Rawan kecurangan, bisa terjadi surat suara sudah dicontreng tanpa diketahui sebelumnya.
3. Pada saat penghitungan, butuh kewaspadaan tinggi untuk meneliti bagian yang dicontreng, kalau coblos tinggal diraba dan diterawang. Hal ini berpengaruh terhadap saksi partai yang notabene duduknya lumayan jauh dan tidak kelihatan apa apa yang dipilih.
4. Melancarkan tindakan nakal para usilers, ada di beberapa tps yang mengirim salam/surat cinta via surat suara, kreatif sih, tapi beberapa ada yang menulis kata kata kotor yang tidak pantas saya tuliskan disini.
5. Pemborosan bolpen, kalau coblos tinggal modal paku, yang tidak berkurang masa gunanya.
6. Sangat tidak cocok untuk orang buta, tidak punya tangan dan lain lain, kalau coblos, bisa dibimbing dengan disaksikan para saksi.

Masih banyak lainnya yang dialami pada saat pemilu kemarin, tetapi tragisnya kali ini lagi-lagi pemilu dimenangi oleh golput, hampir 40% jauh diatas pemenang partai demokrat yang kurang dari 30%. Hal ini sangat-sangat membuktikan bahwa rakyat masih banyak yang tidak/belum percaya kinerja para wakil rakyat, yang menurut saya adalah wakil partai, bukan/belum wakil rakyat.

Saya hanya bisa berharap pada pemilu Persiden nanti, berbagai kejanggalan kejanggalan sebelumnya bisa diminimalisir, mengingat Persiden jauh lebih menentukan nasib rakyat dari pada caleg wakil partai. Amin.

- Friday, 10 04 2009, 13:22 -



Comments

jangan ada yang protes dengan ejaan "persiden" ya :p sengaja!


wkwkwkwkwk.. lagi-lagi sejarah membuktikan.. selama sistem-nya gak beres, GOLPUT tetap juaranya.. Mau siapapun yang duduk di DPR / DPRD, mereka hanya mewakili kehampaan dan ke-omong-kosongan.. sebab, terbukti dukungan mereka tidak maksimal alias kedudukan mereka tidak legitimate.. mau jadi apa Republik ini???


mas... mas... udah periksa ke RSJ terdekat?


Tambah Komentar

* = harus diisi

:

:

:


6 dikurangi 3 ditambah sepuluh =